Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

The Irreplaceable Senad Lulic

Tak ada yang istimewa jika kita sekilas melihat sosok seorang Senad Lulic. Parasnya sayu, gaya bermainnya agak berbeda, jika bisa dikatakan dalam bahasa sehari-hari kata yang paling cocok untuk menggambarkan gaya bermainnya mungkin ‘letoy’, olah bolanya pun biasa saja. Tapi yang lebih aneh lagi, selama 6 musim membela Lazio, siapapun pelatih yang menangani Lazio dia hampir selalu menjadi pilihan utama.

Saya masih ingat betul saat musim pertamanya membela Lazio, tepatnya di Serie A 2011/12. Lulic masih bermain tidak stabil, sering kehilangan bola dengan cara yang sepele, gampang sekali terjatuh dan kalah telak saat harus berduel dengan gelandang-gelandang breaker lawan. Memang saat itu di Serie A, gelandang bertipikal ‘badak’ masih menjamur. Sebut saja AC Milan dengan Gennaro Gattuso dan Massimo Ambrosini-nya, Juventus punya Arturo Vidal, Inter Milan yang masih mengadalkan Esteban Cambiasso, dan masih banyak lagi. Seorang Lulic seakan ‘di bully’ di musim perdananya bersama Lazio.

Lulic di musim perdananya bersama Lazio.

Lantas apa sebenarnya yang mendasari para pelatih Lazio dari jaman Edy Reja hingga sekarang era Simone Inzaghi selalu memberikan kepercayaan penuh kepada seorang Senad Lulic untuk tampil regular di skuad utama Lazio? Sebagai catatan, Lulic sejak pertama datang ke Lazio selalu tampil diatas 25 pertandingan liga setiap musimnya.

Musim pertamanya 2011/2012, saat Lazio dilatih Edoardo Reja, Lulic tampil sebanyak 27 kali di Serie A, 23 kali diantaranya sebagai starting line up. Tahun berikutnya, saat Lazio ditangani oleh Vladimir Petkovic, Lulic bermain sebanyak 33 pertandingan di liga, dengan 29 kali sebagai starter, ditambah 12 pertandingan di Liga Europa, serta 5 pertandingan di Coppa Italia dengan sebuah golnya di partai final yang mengantarkan Lazio mengalahkan rival sekotanya, AS Roma. Musim 2013/2014, diawal musim Lazio masih mempertahankan Vladimir Petkovic sebagai pelatih, keputusan itu hanya bertahan hingga tengah musim, setelah Petkovic dinilai gagal mengangkat perfoma Lazio dan akhirnya kursi kepelatihan diserahkan kembali ke tangan Edy Reja.  Musim itu Lulic tampil sebanyak 30 kali, dengan 28 kali menjadi starter, ditambah 5 pertandingan di Liga Europa, 1 pertandingan Coppa Italia dan 1 pertandingan Supercoppa Italia. Musim 2014/2015, Lazio menunjuk Stefano Pioli sebagai pelatih menggantikan Edy Reja. Ditangan Pioli, Lulic pun masih dipercaya sebagai bagian skuad utama dengan catatan tampil sebanyak 25 pertandingan liga, 22 diantaranya sebagai starter, serta 4 pertandingan Coppa Italia. Sedangkan musim lalu, Lulic tampil sebanyak 30 pertandingan liga, dengan 28 diantaranya sebagai starting line up, 2 pertandingan play off Liga Champions, 6 pertandingan Liga Europa, serta 1 pertandingan Coppa Italia. Dan musim ini, dibawah kepemimpinan Simone Inzaghi, hingga pekan ke 28 Serie A, Lulic sudah tampil sebanyak 25 pertandingan, dengan 23 diantaranya sebagai starter, serta 2 pertandingan Coppa Italia.

Belakangan pro dan kontra terjadi dikalangan Laziale di Indonesia, terkait keberadaan Senad Lulic di starting line up pilihan Inzaghi. Banyak yang mempertanyakan keputusan Inzaghi yang lebih memilih seorang Lulic untuk bermain dari awal dibanding Keita Balde yang mempunyai skill lebih unggul, tapi tak sedikit pula yang mendukung keputusan Inzaghi tersebut.

Jika seandainya saya mempunyai kemampuan seorang cenayang dan bisa membaca pikiran para pelatih-pelatih Lazio yang pernah memberikan kepecayaan kepada Lulic untuk tampil di skuad utama, mungkin poin-poin ini yang menjadi pertimbangan  mengapa mereka selalu memberi porsi tersendiri bagi seorang Senad Lulic di skuad utama Lazio.

1. Versatile Player

Gambar tabel diatas mungkin cukup menjelaskan kenapa Senad Lulic sangat disukai oleh para pelatih Lazio 6 musim belakangan.

Lulic adalah seorang versatile player atau pemain yang dapat menempati beberapa posisi dengan sama baiknya. Seluruh pos di posisi kiri Lazio pernah ditempatinya, mulai dari bek kiri, gelandang sayap hingga winger. Dibeli dari Young Boys dengan mahar 3 juta euro, posisi awal Lulic adalah sayap kiri. Dimusim perdananya di Lazio, Lulic lebih banyak beroperasi sebagai gelandang sayap pada formasi 4-4-2, arahan Edy Reja.

Adalah Vladimir Petkovic yang berani melakukan percobaan dengan menempatkan Lulic di pos bek sayap kiri bergantian dengan Stefan Radu. Percobaan itu membuahkan hasil, Lulic cukup baik dalam mengawal pergerakan dan mengimbangi kecepatan winger lawan.  Saat Edy Reja kembali menangani Lazio medio musim 2013/2014, pada sebuah pertandingan Derby Della Capitale melawan AS Roma dia pun tercatat pernah bereksperimen dengan menempatkan Lulic menjadi Central Midfielder menemani Ledesma dan Alvaro Gonzalez, pada formasi 4-3-3 miliknya. Lulic tampil tak mengecewakan dan berhasil membendung pergerakan rekan senegaranya Miralem Pjanic dalam pertandingan yang berkesudahan dengan skor 0-0 tersebut.

Lulic saat ditempatkan sebagai gelandang tengah oleh Edy Reja, saat pertandingan Derby Della Capitale 2013/2014.

Berpegangan pada hasil eksperimen dua pelatih pendahulunya, Pioli pun melakukan hal yang sama, tercatat beberapa kali Lulic ditempatkan pada posisi yang berbeda pada pakem formasinya.

Yang lebih gila lagi, Simone Inzaghi pada pertandingan melawan Empoli di pekan ke 25 Serie A musim ini, menggeser Lulic pada 3 posisi berbeda dari awal hingga akhir pertandingan, Lulic yang waktu itu menjadi starter di plot menempati posisi winger kiri. Pada menit 57 dalam posisi tertinggal 1-0, Inzaghi mengganti Sergej Milinkovic-Savic dengan Keita Balde yang naturalnya berposisi sebagai winger. Lulic pun digeser turun untuk menggatikan posisi Sergej di lini tengah. Setelah berhasil menyamakan kedudukan, pada menit ke 75 Inzaghi memutuskan untuk menambah daya gedor serangan dengan memasukkan Filip Djordjevic menggantikan Stefan Radu, Lulic pun kembali digeser posisinya menjadi bek sayap kiri menggantikan posisi yang ditinggalkan Radu.

Dan pada pertandingan melawan Torino, Selasa dini hari lalu, skenario yang hampir sama pun terjadi. Lulic yang tampil sebagai starter, ditempatkan sebagai winger kiri. Menit ke 77 saat keadaan masih imbang 1-1, Inzaghi melakukan sebuah perjudian yang terbilang cukup nekat. Sadar akan kehilangan poin penuh dikandang, Inzaghi harus meningkatkan sektor serangan dengan memasukkan pemain yang lebih agresif, dan syarat itu ada pada diri Keita Balde Diao. Namun yang menarik, alih-alih mengganti Lulic yang menempati posisi sama seperti Keita, Inzaghi justru menarik keluar kapten tim sekaligus gelandang jangkar Lazio, Lucas Biglia, untuk digantikan dengan Keita dan menggeser posisi Lulic menjadi seorang Defensive Midfielder menggantikan peran Biglia. Hebatnya, taktik ini membuahkan hasil, Keita mencetak gol di menit ke 83 dan membawa Lazio unggul 2-1. Dan menjelang pertandingan berakhir, Lulic berhasil mengirim sebuah umpan terobosan matang ke Felipe Anderson untuk memperbesar keunggulan Lazio menjadi 3-1.

Daftar penampilan Lulic musim ini bersama Lazio. Terlihat berbagai posisi telah ditempati olehnya.

2. “He possesses great pace and stamina”.

Begitulah laman Wikipedia mendiskripsikan seorang Senad Lulic. Dan memang benar adanya, Lulic adalah pemain yang memiliki kecepatan dan stamina yang luar biasa. Ini juga mungkin yang menjadi salah satu faktor para pelatih Lazio menyukai dirinya.

Dibalik penampilannya dilapangan yang terlihat lambat, Lulic menyimpan kecepatan yang cukup untuk membuat bek lawan kewalahan. Ini salah satu kelebihan Lulic yang membuat saya takjub. Seperti yang saya bilang diawal tulisan ini, gaya bermain Lulic agak berbeda kalo tak bisa dikatakan aneh. Cara dia melakukan dribble sangat kaku, tapi entah kenapa bek lawan seperti susah untuk mengantisipasi gerakannya, ajaib!

Bicara soal stamina, jangan ditanya lagi. Terkadang saya berpikir Lulic ini mungkin mempunyai kemampuan ‘second wind’..hehehe. Bagi kalian penggemar game FIFA keluaran EA Sport, pasti tak asing dengan istilah ini, terutama yang bermain pada career mode sebagai pemain. Second wind adalah kemampuan pemain dalam mendapatkan tenaga tambahan saat pertandingan mendekati akhir, sehingga stamina bar yang tadinya hampir habis akan terisi kembali. Hal inilah yang kadang saya jumpai pada diri Senad Lulic. Terkadang dia terlihat terengah-engah ditengah pertandingan, dan sepertinya tak akan sanggup lagi untuk melanjutkan pertandingan, ajaibnya menjelang akhir pertandingan dia kadang sibuk beradu sprint dengan lawan, entah itu dalam rangka membuka alur seragan ataupun meng-cover area yang ditinggalkan rekannya. Amazing!

3. Key Passes dan Crossing yang Mumpuni.

Catatan 7 assist miliknya hingga pekan ke 28 Serie A musim ini, mungkin cukup untuk menjawab keraguan tentang kemampuan passing-nya. Ditambah dengan rata-rata 2,3 key passes per pertandingan semakin melengkapi kelebihannya dalam hal oper-mengoper bola.

Catatan passing Lulic sepanjang musim ini.

Selain itu, sebagai seorang pemain sayap, Lulic memiliki kelebihan dalam hal crossing akurat. Kalian tentu masih ingat bagaimana crossing memanjakan dari Lulic untuk gol penyama kedudukan dari Milinkovic-Savic saat Lazio menjamu Atalanta di pekan ke 20. Atau crossing ciamik untuk gol pertama Immobile saat Lazio bertandang ke markas Bologna 2 minggu silam.

4. Keseriusan saat Latihan dan Kepribadian yang Baik.

Lulic adalah kapten ke-3 Lazio musim ini setelah Biglia dan Radu. Ada alasan tertentu bagi pelatih untuk menunjuk seorang pemain menjadi kapten, salah satunya adalah attitude pemain baik didalam maupun diluar lapangan. Dan Lulic mempunyai itu dalam dirinya.

Diawal musim Lulic sempat terlibat cek cok dengan Keita saat latihan, ditengarai hal ini bermula akibat tackling yang agak kasar dari Lulic kepada Lukaku. Keita bereaksi cukup keras atas kejadian itu, dan terjadilah perdebatan sengit diantara keduanya. Perselisihan ini sempat menjadi isu yang menjadi alasan Keita bakal hengkang dari Lazio. Tak ingin spekulasi bertambah panjang, Lulic menyatakan bahwa dirinya telah menyelesaikan permasalahannya dengan Keita dan hubungan keduanya pun membaik. Dari kejadian itu saya ambil kesimpulan bahwa, walaupun dalam sesi latihan sekalipun, Lulic sangat serius dalam mempersiapkan dirinya. Keseriusan dalam berlatih inilah yang mungkin menjadi pertimbangan pelatih mempertahankan dirinya.

Lulic saat latihan bersama rekan-rekannya di Formello.

Beberapa waktu lalu, Lulic sempat terkena hukuman akibat perkataannya yang menghina bek AS Roma, Antonio Rudiger. Hal itu dia lakukan guna membalas komentar Rudiger yang terkesan meremehkan Lazio. Walaupun akhirnya dia meminta maaf, dia terpaksa harus absen di 2 pertandingan liga guna menjalani hukuman.

Mungkin itu beberapa poin yang bisa menjelaskan mengapa Lulic sampai sekarang masih menjadi pilihan utama para pelatih Lazio 6 musim kebelakang.  Bahkan dirinya mampu menyingkirkan beberapa nama pesaing yang digadang-gadang mempunyai bakat dan skill diatas rata-rata. Sebut saja nama-nama seperti Gael Kakuta, Luis Alberto, Ravel Morrison, atau Ricardo Kishna yang bisa dibilang mempunyai  skill mumpuni, harus rela melihat posisinya ‘dijarah’ oleh soerang Senad Lulic. Dan saya yakin keputusan yang diambil para pelatih dengan menepikan para pemain itu bukan sekedar keputusan tanpa dasar, mereka pasti mempetimbangkan secara matang menyangkut penilaian saat latihan maupun kebutuhan tim saat itu.

Perlu saya ingatkan lagi, bahwa poin-poin diatas adalah penilaian subyektif saya pribadi, hasil penerawangan jika seandainya saya punya kemampuan membaca pikiran para pelatih Lazio, seperti yang saya bilang diatas, heheehe. Tapi bagaimanapun juga, terlepas dari gol yang diciptakannya pada final Coppa Italia melawan AS Roma, Senad Lulic sangat layak ditempatkan sebagai salah seorang pahlawan bagi Lazio mengingat kontribusinya kepada klub sampai sekarang ini.

Sumber :

whoscored.com

transfermarkt.com

wikipedia

Berikan komentar