Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

Sepenggal Kisah dibalik Derby Della Capitale

Derby Della Capitale (DDC) jilid pertama di musim 2016/2017 telah usai, tim Serigala Roma kembali jadi penguasa Ibu kota Italy, bagi kubu Lazio jelas ini tamparan keras, dimana harapan untuk menang di musim ini sangat besar, hal ini tak terlepas dari performa tim yang kian membaik.

Hasil buruk ini jelas bukan yang diharapkan para Laziale yang kembali antusias memadati stadion Olimpico Roma, begitupun kami yang hanya menyaksikan lewat layar kaca sangat kecewa. Terlepas dari hasil akhir yang menyakitkan, permainan yang ditunjukan tim biru langit sangat antiklimaks, monoton tidak ada kreasi serangan, tak terlihat gairah derby seperti halnya yang telah ditunjukan para pejuang Lazio terdahulu.

Jalannya pertandingan kali ini awalnya sempat menghidupkan asa seiring absennya Mohammed Salah di kubu lawan. Sedangkan dikubu Lazio sendiri bisa dibilang komplit tak ada bintang mereka yang absen. Formasi 5-3-2 yang diterapkan kubu lawan pun tidak seperti biasanya, dikubu Lazio formasi 4-3-3 tidak ada perubahan. Di 15 menit awal sebetulnya Lazio bisa mengandalikan permainan, lini perlini hidup meski minim peluang, tapi setelah itu roma kian membaik. Banyaknya tifosi yang hadir langsung seolah beban bagi skuad Lazio selaku tuan rumah, ini terlihat di babak kedua, dimana tensi permainan mulai meningkat, drama khas derby mulai terlihat. Kematangan pemain senior dalam mengatasi situasi derby diperlihatkan skuad Roma, De Rossi, Nainggolan, dan Strootman. Sebaliknya, hal ini tak terlihat dari kubu Lazio, Biglia, Radu, Lulic, tidak bisa mengontrol suasana.

Kreasi trio penyerang Lazio terbentur kokohnya 5 pertahanan lawan sehingga membuat gelandang Lazio naik membantu, dari kubu AS Roma mereka lebih efektif dengan sesekali menyerang lewat sayap mengandalkan umpan crossing mengarah ke Dzeko, bukan masalah buat duet Wallace dan Radu di center bek. Kegemilangan Wallace belakangan ini harus dibayar mahal, bola dalam penguasaanya berhasil dicuri strootman hingga berbuah goal bagi kubu lawan. Sadar akan posisi tertinggal, Lazio meningkatkan serangan, namun kali ini sepakan keras khas Nainggolan meluncur deras ke gawang Marchetti sedikit berbelok etelah membentur kaki Radu. Lazio tak cukup waktu mengubah keadaan, kekalahan 0-2 adalah kenyataan pahit yang harus diterima kita semua.

Kekalahan Derby Della Capitale bukanlah akhir dari segalanya, saya teringat tahun 1999, kala itu Lazio kalah lebih menyakitkan di pertemuan pertama dengan skor 4-1, sepasang goal Montella dan Delveccio hanya mampu dibalas penalti Mihajlovic. Kepulan asap di stadion Olimpico begitu pekat, petasan, kembang api berkobar dari berbagai tribun saat itu mewarnai hasil buruk menyayat hati. Saya hanya bisa merenung didepan layarkaca RCT* sambil dikelilingi kegembiraan Romanisti disekitar saya, kekalahan yang sulit diterima mengingat 9 laga sebelumnya tanpa kekalahan, termasuk menang lawan parma, draw melawan duo Milan, tapi harus takluk menyakitkan dari musuh sekota.

Penderitaan saya belum berakhir, karena esok saya harus kembali ke pondok pesantren, setelah keluar tanpa izin, itu berarti saya harus menerima hukuman lebih. Betul saja, setelah kembali ke pondok saya harus menerima hukuman berat, bolos sekolah, keluar tanpa izin, dan ketahuan merokok menjadi pasal pelanggaran yang mendakwa saya, pertandingan memang digelar weekend, namun libur sekolah saya hanya di hari jumat. Semenjak jumat saya sudah keluar pondok, berburu koran Bola ataupun koran GO demi sebuah berita Lazio menjelang Derby. Bermodalkan berita dari kedua koran tersebut saya memutuskan harus menjadi saksi Derby saat itu, apapun yang terjadi, tekad ini sudah bulat. Untuk menonton derby saya harus pergi ke kota Cirebon, karena di pondok saya yang berda di kabupaten Kuningan tidak disediakan TV, kalopun ada tetap sulit mendapatkan sinyal RCT* di sini.

Ada beberapa alasan kenapa saya harus nonton Derby kala itu, pertama, musim sebelumnya Lazio bisa saja scudetto jika tidak disalip AC Milan, menyakitkan. Kedua, performa Lazio sedang meningkat dengan kedatangan Veron dan Simone Inzaghi dari Piacenza, berpadu dengan bintang yang ada seperti Salas, Simeone, Almeyda, Conceicao dan sang idola Alessandro Nesta. Dan yang ketiga, saya kagum akan idealisme yang dianut para tifosi Lazio dan komiteman kuat manajemen dibawah presiden Sergio Cragnotti dan pelatih Svenn Goran Erikson.

Pada perjalannya penuh suka duka, tapi berakhir suka cita, gelar dramatis melalui perjuangan para pahlawan lapangan hijau bersama para tifosi yang tak henti mendukung sepenuh jiwa raga, berjaya seantero Italy, bersaing di Eropa. Walaupun di DDC kami belum berjaya, namun diluar itu kami berharap bisa berjaya, meraih scudetto, kembali masuk jajaran klub top Eropa. Dari kisah diatas tidak berlebihan jika kita Lazio sedang merajut asa tuk berada dijalur kemenangan maraih banyak trophy, kalaupun sekarang belum sukses, namun jalan menuju kesuksesan itu sudah ada, tinggal menunggu waktu yang tepat sembari menanti moment yang pas.

Apakah moment indah itu akan kembali terulang? Semoga saja tim akan terus berjuang meraih kemenangan disetiap laga, termasuk membalas kekalahan menyakitkan di Derby selanjutnya, dan diakhiri pengangkatan thropy pada akhirnya. Harapan itu ada dan selalu ada.

Semoga klub bisa mempertahankan kondisi tim, tak tergoda oleh iming-iming fulus semata, tetap memegang komitmen demi meraih banyak kemenangan. Apapun yang terjadi kami akan tetap bangga menjadi Laziale, sebuah kebanggan yang tak ternilai harganya.

FORZA LAZIO… NON MOLLARE MAI……

Penulis:

Wasiul Aziz

Berikan komentar