Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

Pemain Hebat Itu Bernama Giuliano Fiorini

Prolog

Di dunia sepak bola ada dua jenis pemain hebat. Yang pertama adalah mereka yang di anugerahi bakat luar biasa seperti, Leo Messi, Pele, Maradona, Neymar, dll. Dan yang kedua adalah mereka yang menempa diri melalui latihan mahaberat seperti, David Beckham, Cristiano Ronaldo, Ferenc Puskas, Ruud van Nistelrooy, dll. Sosok yang akan saya bahas pada tulisan ini mungkin tak termasuk dalam kedua kategori tersebut. Namanya adalah Giuliano Fiorini, striker Lazio di era tahun 1985-1987. Ya, dia tak termasuk dalam dua kriteria pemain hebat tersebut, lantas apa yang membuat fans Lazio – termasuk saya – begitu mencintainya, bak dia pemain yang sangat hebat?

Duduk baik-baik sementara saya menceritakan kisahnya…

Chapter 1  –  Tumbuh Besar dan Awal Karir Professional

Lahir di Modena pada tanggal 21 Januari 1958, Fiorini tumbuh besar di kota kecil di utara Italia tersebut. Fiorini memulai karirnya sebagai pemain sepak bola kala bergabung di sebuah klub lokal di kota Modena bernama Fratelli Rosselli. Berhubung letak geografis Modena yang berdekatan dengan Bologna, Fiorini akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan akademi sepak bola Bologna untuk meneruskan mimpinya menjadi pemain sepak bola profesional.

Fiorini saat memperkuat Primavera Bologna tahun 1974.

Gayung bersambut, tak lama bergabung dengan akademi Bologna, Fiorini memperoleh promosi untuk memperkuat tim utama. Pada musim 1974-1975, Fiorini melakukan debutnya di Serie A, tepatnya pada tanggal 9 Februari 1975 saat Bologna berhadapan dengan Fiorentina. Kala itu Fiorini baru berusia 17 tahun, dan pada pertandingan debutnya tersebut Fiorini bermain cukup gemilang. Dia membuat sebuah assist yang cukup memanjakan bagi Giuseppe Savoldi untuk mencetak gol satu-satunya dipertandingan itu dan mengantarkan Bologna mengalahkan Fiorentina.

Namun, dengan modal tampil apik dipertandingan debutnya, tak membuat Fiorini langsung jadi pilihan utama pelatih. Walau pada saat diberi kesempatan bermain dia selalu bermain bagus, Fiorini lebih akrab dengan bangku cadangan. Total 4 pertandingan yang berhasil ia mainkan di musim pertamanya bersama Bologna dengan torehan 1 gol. Sebuah rasio yang cukup bagus untuk ukuran pemain muda dengan kesempatan bermain yang sangat minim.

Dinilai masih terlalu muda oleh tim pelatih Bologna, pada musim 1975-76, Fiorini dipinjamkan ke klub Serie C, Rimini, untuk menimba ilmu. Disana dia tampil dalam 13 pertandingan dan mencetak 2 gol. Statistik itu tak membuat manajemen Bologna berniat memanggilnya kembali. Pada musim 1976-77, Fiorini kembali dipinjamkan ke Brescia yang kala itu bermain di Serie B.  Di Brescia, Fiorini bermain lumayan baik dengan mencetak 9 gol dalam 20 penampilannya. Hal itu cukup untuk membuat Bologna memanggilnya kembali pada musim 1977-78. Namun, nasib baik sepertinya tak menaunginya, dia hanya mendapat kesempatan bermain 8 kali dan tak mencetak gol satu pun.

Musim berikutnya dia memutuskan hijrah ke klub yang baru terdegradasi ke Serie B, Foggia. Di Foggia, Fiorini masih belum menemukan performa terbaiknya, dia hanya mampu mencetak 4 gol dalam 25 kali kesempatan bermain, disana dia hanya bertahan satu musim dan memutuskan pindah ke klub Serie C1, Piacenza. Seakan ingin membayar semua kesempatan yang telah terbuang, Fiorini bermain sangat gemilang bersama Piacenza. Total 21 gol berhasil ia sarangkan ke gawang lawan yang membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak di Serie C1 musim 1979-80. Hal tersebut membuat Bologna kembali merekrutnya. Kali ini dia mampu bertahan selama 2 musim bersama Bologna dengan membukukan 11 gol dari 46 caps.

Salah satu penampilannya bersama tim senior Bologna.

Fiorini kembali memutuskan hengkang dari Bologna dimusim 1982-83, kali ini tujuannya adalah Genoa yang bermain di Serie B. Hanya mencetak 3 gol dalam 19 pertandingan membuatnya tersisih dan terpaksa dipinjamkan ke klub Serie B lainnya Sambenedettese dimusim berikutnya. Musim 1984-85, Fiorini kembali ke Genoa. Sepanjang musim itu dia tampil apik dengan mengemas 11 gol dari 31 pertandingan. Hal tersebut cukup membuat Lazio, yang kala itu baru saja terdegradasi dari Serie A, terpikat untuk merekrutnya.

Chapter 2  –  Awal Petualangan Bersama Lazio

Serie B 1985-86. Musim itu bukanlah musim yang menyenangkan bagi Lazio, setelah terdepak dari Serie A, banyak penggawa Lazio yang memutuskan untuk meninggalkan klub. Pemain-pemain kunci macam kiper Fernando Orsi, bek Lionello Manfredonia, Michael Laudrup serta Bruno Giordano memilih untuk hengkang guna menyelamatkan karir mereka. Beruntung beberapa pemain seperti Vincenzo D’Amico, Batista, dan Oliviero Garlini masih setia bersama Lazio, ditambah beberapa debutan dan rekrutan baru seperti Domenico Caso dan Fiorini, Lazio terpaksa mengarungi musim itu dengan materi yang seadanya. Lazio pun tertatih-tatih walau hanya bermain di Serie B. Dan di musim itulah Fiorini memulai petualangannya bersama Lazio.

Berseragam Lazio pada musim 1985-86

Di Lazio, Fiorini di plot menggantikan posisi Bruno Giordano yang memilih hijrah ke Napoli kala Lazio terdegradasi. Musim pertamanya di Lazio tak berjalan dengan baik, Fiorini seperti masih butuh beradaptasi dengan gaya permainan Lazio. Beban sebagai pengganti striker sekaliber Bruno Giordano masih terlalu berat baginya. Beruntung bagi Lazio, Oliviero Garlini tampil mengesankan di lini depan, dengan torehan 18 gol menempatkan Garlini sebagai Cappocanoniere atau pencetak gol terbanyak di Serie B musim itu. Sementara Fiorini hanya mampu mencetak 3 gol sepanjang musim. Gelontoran gol dari Garlini rupanya belum mampu mengangkat posisi Lazio di klasemen. Di akhir musim, Lazio harus puas finish di posisi 12 Serie B edisi 1985-86. Bukan sebuah posisi membanggakan untuk klub yang biasa tampil reguler di Serie A.

Chapter 3  –  The Heroes of -9

Petaka bagi Lazio kian parah. Dimusim berikutnya, tepatnya Serie B 1986-87 Lazio terpaksa harus memulai kompetisi dengan pengurangan 9 poin, akibat skandal pengaturan skor yang melibatkan pemain tengah, Claudio Vinazzini. Mungkin ungkapan pepatah yang berbunyi “Sudah jatuh tertimpa tangga pula” sangat pas untuk menggambarkan kondisi Lazio kala itu. Oliviero Garlini yang musim sebelumnya menjadi andalan Lazio di lini depan, memutuskan untuk hengkang dari Lazio. Berkat keberhasilannya menjadi top scorer, membuat banyak klub Serie A menaruh minat padanya. Garlini akhirnya memutuskan berlabuh ke Inter Milan. Vincenzo D’Amico pun mengikuti jejak Garlini dengan hijrah ke Ternana.

Tak terbayang bagaimana pusingnya Eugenio Fascetti, pelatih Lazio kala itu, yang diharuskan memeras otak guna merancang strategi yang pas untuk mengarungi musim dengan materi pemain seadanya. Di lini depan, tak ada pilihan bagi Fascetti selain mengoptimalkan peran Fiorini sebagai penyerang utama. Target tim kala itu hanyalah bertahan di Serie B.

Eugenio Fascetti, pelatih Lazio kala itu. Oleh fans, ia pun dijuluki ‘Mister -9’.

Beruntung, Fascetti yang semasa masih aktif sebagai pemain pernah memperkuat Lazio, tahu betul bagaimana memaksimalkan potensi setiap pemain yang dimilikinya, termasuk seorang Fiorini. Hasilnya pun cukup efektif, Lazio bisa dibilang bermain lumayan baik musim itu. Namun, dengan hukuman pengurangan 9 poin yang diderita oleh Lazio, membuat perjuangan mereka menjadi bertambah berat. Hingga pekan ke 37, Lazio masih diambang degradasi. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain harus menang di pertandingan terakhir menghadapi tim yang sama-sama sedang berjuang terhindar dari degradasi, L.R. Vicenza.

Suasana Stadio Olimpico saat itu.

21 Juni 1987, Stadio Olimpico penuh sesak oleh sekitar 62.000 pasang mata yang datang langsung untuk memberi dukungan kepada Lazio. Di hari itulah Lazio menghadapi pertandingan hidup mati melawan L.R. Vicenza, siapapun yang berhasil meraih kemenangan, maka tim tersebut berhak mendapatkan tiket play off untuk bertahan di Serie B. Atmosfir pertandingan sempat memanas saat bek L.R. Vicenza, Danio Montani, diganjar kartu merah oleh wasit di menit ke 67. Secara keseluruhan, pertandingan berlangsung relatif ketat, hingga akhirnya pada menit ke 82, sebuah sodoran umpan dari Gabriele Padovani dari sisi kanan area serang Lazio, diterima dengan baik oleh Fiorini yang berada di kotak pinalti. Mendapat pengawalan yang cukup ketat dari bek lawan, Fiorini berhasil berkelit dan dengan sedikit sontekan, kiper lawan pun terperdaya. 1-0 untuk Lazio! Fiorini merayakan gol tersebut dengan berlari layaknya orang kesurupan kearah pendukung Lazio, dan disambut oleh gemuruh sorak sorai para pendukung yang sedari tadi menanti terciptanya gol tersebut.

Momen berserjarah, beberapa detik setelah terciptanya gol penentu kemenangan.

Hingga peluit akhir dibunyikan, kedudukan masih bertahan untuk keunggulan Lazio, dan hasil itu cukup bagi Lazio untuk mengamankan tiket play off. Di akhir pertandingan penonton turun membanjiri lapangan seolah-olah Lazio berhasil menjuarai liga. Mereka mulai ‘mejarah’ baju seragam hingga celana para pemain. Fiorini yang larut dalam tangis harunya, tampak pasrah saat para fans melucuti jersey dan celananya.

Fiorini berjalan keluar lapangan dengan kondisi nyaris telanjang, setelah baju dan celana seragamnya ‘dijarah’ oleh fans.

Lazio akhirnya berhasil bertahan di Serie B, berkat kemenangan 1-0 atas Campobasso pada pertandigan terakhir play off. Dan di musim itu, Fiorini menjadi pemain tersubur Lazio dengan koleksi 7 gol.

Untuk menghormati dan mengenang perjuangan para pemain dan juga staff kepelatihan di musim itu, para fans Lazio menjuluki skuad Lazio di musim itu dengan sebutan ‘The Heroes of -9’.

Skuad Lazio di Serie B musim 1986-87. Skuad inilah yang akhirnya memperoleh predikat ‘The Heroes of -9’.

Di musim 2014/2015, dalam rangka memperingati 115 tahun Lazio berdiri, serta mengenang kembali perjuangan dan semangat para Pahlawan -9 ini, Lazio memakai desain jersey yang sama dengan yang dikenakan oleh para penggawa Lazio di musim 1986-1987 itu. Dan tuah seragam itu nampaknya belum habis. Lazio tampil trengginas sepanjang musim dan berhasil finish diurutan 3, serta berhak memperoleh satu tiket play off Liga Champions 2015/2016, walaupun pada akhirnya Lazio harus tersingkir ditangan Bayer Leverkusen di babak play off.

Chapter 4  –  Terusir Dari Lazio dan Pensiun Dini

Menyandang predikat sebagai pahlawan penyelamat klub, tak lantas membuat Fiorini mendapat perlakuan khusus dari Lazio. Yang terjadi justru sebaliknya, Fiorini seakan diusir secara halus oleh Lazio. Cidera yang kerap dialaminya serta kondisi fisik yang mulai menurun, membuat manajemen memutuskan untuk tak memperpanjang masa kontraknya bersama tim.

Musim 1987-1988, Fiorini akhirnya memutuskan untuk hengkang ke Venezia-Mestre.

Di sana, Fiorini menghabiskan satu musim dengan torehan 10 gol dari 31 pertandingan dan berhasil menghantarkan Venezia-Mestre promosi ke Serie C1. Musim berikutnya Fiorini pindah ke Siena lalu diteruskan ke Ternana, dengan hanya bertahan selama satu musim di masing-masing klub tersebut.

Fiorini akhirnya memutuskan gantung sepatu di akhir musim 1989-1990, pada usia yang masih relaltif muda untuk ukuran pemain sepak bola, 32 tahun. Kondisi fisiknya yang sudah tidak memungkinkan untuk tampil kompetitif terpaksa membuatnya pensiun dini dari dunia sepak bola. Setelah pensiun, Fiorini memutuskan kembali ke kota Bologna. Sesekali waktu dia menyempatkan diri untuk datang ke kota Roma, mengunjungi kawan-kawan lamanya dan bernostalgia bersama mengenang perjuangan mereka semasa di Lazio.

Chapter 5  –  Akhir Cerita Sang Legenda

Di awal era milenium, Fiorini harus menerima kenyataan pahit saat dirinya di vonis menderita kanker paru-paru. Fiorini adalah seorang perokok berat, dan kebiasaan buruknya itu merupakan pangkal dari penyakit yang dideritanya. Fiorini masih sempat datang ke acara peringatan 100 tahun Lazio. Pada perayaan itu diadakan exhibition match, antara para legenda Lazio dari masa ke masa. Fiorini didapuk memakai jersey Centenario (seragam yang didesain khusus untuk memperingati 100 tahun Lazio), bernomor punggung 9 kala itu.

Fiorini mengenakan seragam bernomor punggung 9, saat perayaan 100 tahun Lazio, tahun 2000 silam.

5 Agustus 2005, akhirnya kabar duka itupun datang. Fiorini menghembuskan napas terakhirnya di kota Bologna, pada usia yang baru beranjak diangka 47 tahun. Penyakit kanker yang dideritanya semakin memburuk, dan tubuhnya sudah tak mampu lagi untuk melawan keganasan penyakit itu. Sang Pahlawan telah berpulang. Publik berduka atas kepergiannya, tak terkecuali para pendukung Lazio.

Berita wafatnya Fiorini dimuat di koran Italia.

Pada pertandingan perdana musim 2005/2006, tepatnya tanggal 28 Agustus 2005, saat Lazio menjamu Messina di Olimpico, seluruh pemain dan official Lazio mengenakan ban hitam di lengan tanda duka bagi kepergian Fiorini. Paolo Di Canio yang saat itu masih menjadi andalan Lazio, sesaat sebelum pertandingan dimulai, terlihat berjalan menuju Curva Nord tempat mayoritas pendukung Lazio berada. Tangannya menggenggam sebuah jersey Lazio tahun 1987, bernomor punggung 9. Ya, itu adalah seragam yang biasa dikenakan Fiorini semasa di Lazio. Seragam itu dibentangkan Di Canio ke arah pendukung Lazio, sesaat kemudian Di Canio memimpin ritual minute of silence untuk mengenang Fiorini. Seisi stadion mendadak senyap, spanduk besar dibentangkan fans Lazio bertuliskan “anche tu nel paradiso degli eroi..Ciao Giuliano” yang jika diartikan ke bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi “KAU SEKARANG TELAH BERADA DI SURGA PARA PAHLAWAN..SELAMAT JALAN GIULIANO”. Itu adalah minute of silence paling emosional yang pernah saya lihat, kolosal!

Di Canio menunjukkan jersey Fiorini ke arah Curva Nord, sesaat sebelum minute of silence dilaksanakan.

Pada perayaan 110 tahun Lazio, tahun 2010 silam. Pihak manajemen memberikan penghargaan kepada dua nama yang dianggap turut memberi andil dalam mewarnai sejarah klub. Penghargaan pertama diberikan kepada Gabriele Sandri, dan penghargaan kedua diberikan kepada Fiorini, atas jasanya selama membela Lazio. Dan pada 2014 lalu, pihak manajemen kembali memberikan penghargaan kepada mendiang Fiorini. Tanggal 26 Mei oleh manajemen Lazio dijadikan sebagai Giuliano Fiorini Day, untuk mengenang sumbangsih Fiorini serta untuk mengenang kemenangan pada Derby Della Capitale di final Coppa Italia 2013 lalu.

Kami sama-sama tinggal di Bologna, sesekali waktu kami keluar bersama untuk sekedar makan. Dia adalah seorang yang berhati besar dan sering memberikan nasehat positif bagi saya. Dia layak untuk dikenang, baik sebagai teman maupun sebagai pesepak bola. Di atas lapangan dia tak pernah menyerah, dan mempunyai keinginan yang kuat untuk mencetak gol. Hal itu tak hanya membantu karirnya, tetapi juga membuatnya masuk kedalam hati para pendukung, terutama para pendukung Lazio dengan gol penentu yang diciptakannya.

(Giuseppe Signori – Saat peresmian Giuliano Fiorini Day)

Chapter 6  –  Sepak Bola Romantis ala Fiorini

Fiorini adalah sosok yang bersahaja, ramah dan murah senyum. Di tim manapun ia bermain, dia selalu dicintai oleh para pendukung tim yang dibelanya. Hal itu saya dapati saat tengah mencari informasi untuk membuat tulisan ini. Beberapa artikel surat kabar, maupun tulisan blog dari para fans, menyiratkan bahwa dirinya selalu dihormati oleh fans dimanapun dia bermain.

Situs TIMF yang berisi arsip dan sejarah klub Bologna, menulis profil dirinya dan menjadikan Fiorini sebagai salah satu legenda klub.

Seorang teman saat masih aktif di mailing list Lazio Indonesia dulu, pernah membuat sebuah tulisan tentang Fiorini yang dimuat di blognya. Tulisan itu dia beri judul “Giuliano Fiorini : Symbol of Romantic Football”, saya tak dapat berkomentar banyak mengenai judul itu selain dengan anggukan setuju.

Faktor kedekatannya dengan para pendukung, perawakannya yang kalem serta ramah membuat banyak kalangan, bahkan jurnalis di Italia sana, menjadikan Fiorini sebagai simbol romantisme dalam dunia sepak bola Italia. Terbukti dari beberapa tulisan fans Bologna hingga Venezia yang menceritakan bagaimana ramahnya sosok Fiorini. Walaupun di atas lapangan penampilannya tak terlalu mengesankan, tetapi tak pernah sekalipun cibiran pendukung mengarah padanya, para fans tetap mencintainya. Romantis bukan??

Epilog

Saat saya tengah iseng berselancar video di kanal Youtube, secara tak sengaja saya menemukan sebuah video tribute yang ditujukan kepada Fiorini. Video tersebut diunggah oleh akun bernama toromauro dan diberi caption ‘Omagio a Fiorini’ yang berarti ‘Tribute to Fiorini’. Entah sudah berapa kali saya menonton video itu, tetapi rasa emosional yang saya rasakan tetap sama. Video itulah yang berjasa mendorong saya untuk membuat tulisan tentang sosok Fiorini ini. Berikut videonya :

Saat menonton video itu, terutama pada bagian saat dia mencetak gol penentu kemenangan saat Lazio menghadapi L.R. Vicenza dan penghormatan yang dilakukan Di Canio untuknya, ada perasaan haru yang membuncah di dada saya. Ditambah, lagu yang dipakai di video itu adalah salah satu lagu dari band favorit saya Coldplay, dan entah kenapa saya merasa perpaduannya sangat pas. Beberapa kali tanpa sadar saya menitikkan air mata. Sumpah ga lebay!!

Pernah suatu kali saat saya menonton video ini, tak sengaja istri saya memergoki saya tengah berkaca-kaca. Dengan serta merta dia langsung mencibir “Jiaahh, nonton gituan aja nangis, gimana nonton drama Korea yang biasa aku tonton?” Saya hanya mampu membalas ejekan itu dengan senyum, karena baginya drama Korea adalah drama paling haru di alam semesta. Jika saya teruskan perdebatan tentang drama ini, maka bisa jadi akan lebih heboh dari perdebatan penistaan agama. Jadi, saya memilih mengalah sambil bergumam dalam hati “Sudahlah Ma, untuk mu drama mu..untuk ku drama ku sendiri..”

Harus saya akui, Fiorini bukanlah pemain yang spesial di atas lapangan. Selama membela Lazio, total Fiorini hanya mencetak 10 gol. Namun, kepribadiannya yang ramah membuatnya sangat dicintai oleh fans. Bagi para Laziale, Fiorini tak hanya menjadi simbol sepak bola romantis, tetapi juga simbol fighting spirit dan kepahlawanan. Gol tunggalnya ke gawang L.R. Vicenza, selebrasi ikonik, serta tangis harunya telah menjadi satu episode tersendiri diantara deretan panjang sejarah Lazio. Nama Fiorini telah tertambat di hati saya dan para pendukung Lazio, sampai kapanpun.

Setelah sampai disini, nampaknya saya harus menambah kriteria pemain hebat diawal tulisan ini.

Di dunia sepak bola ada tiga jenis pemain hebat. Yang pertama adalah mereka yang dianugerahi bakat luar biasa, yang kedua adalah mereka yang menempa diri melalui latihan mahaberat. Dan yang ketiga adalah mereka yang selalu dicintai pendukungnya dimanapun mereka bermain, seperti seorang dengan nama Giuliano Fiorini.

–  Selesai  –

Berikan komentar