Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

Lazio Bukan Butuh Pemain Berkelas, Namun Mentalitas

Setiap tim (apapun itu) ketika memasuki sebuah kompetisi, mereka akan meracik sedemikian rupa pondasi yang mereka anggap cukup kuat untuk mengarungi kompetisi tersebut, layaknya sebuah hunian rumah, pondasi awal yang kokoh akan membuat hunian tersebut menjadi lebih kuat untuk waktu yang lama. Analogi kecil tersebut digunakan juga untuk membangun sebuah tim terutama jika kita bicara sepakbola khusus nya tentang Lazio.

Lazio musim 2016/2017 ini dengan telak akan saya bilang hampir sama bahkan 80% sama dengan 3 musim ke belakang, mempunyai start yang bagus, pemain mumpuni, formasi yang bisa dimainkan dengan taktik apapun, namun ada hal yang tetap belum dimiliki oleh Lazio, yaitu Mentalitas.

Bicara mentalitas bicara pula dengan kualitas. Kualitas pemain yang bagus harus didukung oleh mental bertanding layaknya perang hidup dan mati selama 90 menit. Inilah yang belum maksimal oleh para punggawa Lazio, khususnya musim ini. Total dari 21 laga yang sudah dimainkan Lazio hanya mampu 12 kali menang dengan 8 kemenangan kandang dan 4 kemenangan tandang, sisanya 4 kali menerima hasil imbang dan 5 sisanya berakhir dengan kekalahan, dan kalian tahu 5 kali kekalahan tersebut di derita Lazio ketika bertemu dengan tim papan atas. Inilah yang saya maksud Lazio bukan membutuhkan pemain berkelas namun mentalitas.

Baca juga : Pemain Hebat itu bernama Fiorini

Bukan maksud untuk memandang jauh tim Serie-A yang lain, namun faktanya para penikmat sepakbola dunia jika memandang Liga Negri Pizza ini hanya akan menyebutkan nama-nama tim papan atas seperti Juventus, Roma, Milan, Inter, Lazio dan Napoli.

Lima kekalahan yang diterima Lazio kala bertemu salah satu dari tim papan atas tersebut selalu menemui jalan buntu, padahal secara matematik diatas kertas, Lazio mampu mengimbangi bahkan mempunyai peluang untuk menang melawan mereka, Namun mengapa hasilnya berbanding terbalik? Mari kita ulas satu per satu.

Lazio 0-1 Juventus 

Dengan statistik diatas apakah Lazio pantas kalah? Saya rasa tidak, kualitas pemain yang mumpuni seperti Anderson, Biglia, Parolo dan Immobile. Mereka sanggup mengimbangi Dybala cs, namun hanya dengan satu kesalahan dan akhirnya Khedira mampu memanfaatkan kesalahan tersebut menjadi gol, alur permainan pun berubah total, para pemain Lazio terlihat frustasi dengan disiplin nya para pemain belakang Juventus.

Milan 2-0 Lazio

Berselang 2 pekan setelah dipermalukan Juventus di kandang, dan sedikit mendapat dorongan moral dengan 1 hasil imbang melawan Chievo dan kemenangan telak 3-0 atas Pescara, harusnya menjadi modal untuk melawat ke Sansiro, terlebih Milan saat itu sedang goyah setelah 2 kekalahan beruntun atas Napoli dan Udinese, bahkan Lazio yang saat itu menjadi tamu pun digadang-gadang mampu mendulang 3 poin dari Sansiro, Namun apa yang terjadi? diluar dugaan Milan menjadikan Lazio sebagai mangsa empuk untuk menebus dosa kekalahan beruntun dan membuat para Milanisti tersenyum lebar.

Formasi 3-5-2 yang diterapkan Inzaghi dipertandingan ini yang berharap Milan kewalahan di sektor tengah tidak berlaku bagi Carlos Bacca cs. Bahkan mampu dipatahkan oleh trio gelandang Milan yaitu Bonaventura, Montolivio dan Juraj Kucka (MOTM).

Dan lagi-lagi, Mental para pemain Lazio tidak ada saat pertandingan ini.

Lazio 0-2 Roma

Mungkin inilah puncak pesakitan itu, semua sudah dikerahkan oleh pelatih dan manajemen, menyimpan pemain dari 5 pertandingan sebelumnya untuk laga derby, bahkan harus diberi motivasi tambahan oleh para Laziale yang berbicara langsung pada para pemain saat berlatih di Formello. Seakan tidak cukup semua tambahan moral dan dukungan yang diberikan, mental pun hilang ketika pertandingan datang.

Telak, itu kata yang pas untuk pertandingan ini. bagaimana tidak, 6 dari 9 laga sebelum derby mampu menghasilkan kemenangan namun harus dipermalukan oleh rival abadi.

Bahkan statistik pun bicara, Lazio lebih unggul dari As.Roma. Namun dari 11 Shoot yang dilakukan tidak satupun mengkonversi menjadi gol, permainan terbuka yang disuguhkan oleh anak asuh Inzaghi seakan tidak berguna apa-apa, mental yang sudah jatuh ini tidak bisa dibangkitkan oleh para pemain.

Internazionale 3-0 Lazio

Bukan rahasia umum jika kedua tim bertemu layaknya pertandingan persahabatan, mengapa demikian? Seakan-akan karena menganggap Gemellagio sebagai tameng, hasil apapun tetap menjadikan kedua tim sahabat karib. Tapi memang begitulah kenyataannya, perpindahan pemain kunci ke Inter bukan hal tabu bagi keduanya, puncaknya ketika mantan pemain itu membuat gol indah ke gawang Lazio, cemoohan akan ditujukan kepada pemain tersebut. Beda nasib beda pula reaksi, munculnya nama Pioli dan Candreva dari sisi lawan membuat aroma balas dendam pribadi pun muncul, kedua nya sama-sama ingin menunjukkan jika tim yang mereka bela saat ini lebih baik dari tim sebelumnya, hingga puncaknya statement ala psywar pun muncul sebelum pertandingan.

Secara statistik dan hitung-hitungan diatas kertas, Lazio sebenarnya diprediksi akan mampu dan sangat mampu mendapat 3 poin di San Siro, labilnya permainan Inter diprediksi akan diperpanjang oleh Lazio. Namun prediksi tetaplah prediksi, semua dipatahkan dengan hanya dalam waktu kurang dari 20 menit, Inter mampu membuat 3 gol (54′ Banega, 56′ Icardi, 65′ Icardi) yang membungkan semua chant tentang Gemellagio dan merubahnya menjadi gerutu dan kesal.

Dan, kembali ini masalah mental bukan prediksi diatas kertas.

Juventus 2-0 Lazio

Masih hangat dan masih terngiang begitu cepat dan mudahnya Dybala membuat seisi Juventus Stadium bergemuruh dengan gol nya di menit 5′ dan hanya berselang 10 menit Higuain menambah derita tim tamu. Mungkin tidak perlu panjang membahas ini, karena kita tahu mental itu sudah hilang sejak menit ke 6′.

Keberuntungan Mental Lazio hanya ada ketika bertemu Napoli, yah beruntung karena mereka mampu mendapat hasil imbang di kandang Napoli.

Berikan komentar