Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

KIPRAH LAZIO DI FINAL COPPA ITALIA SEBELUMNYA (Bagian 2)

Lazio tiga kali berhasil menjadi kampiun Coppa Italia dari empat kesempatan pertama mereka tampil sebagai finalis. Bagaimana kiprah Lazio pada empat final Coppa Italia selanjutnya?

  1. Final Coppa Italia tahun 2004

Absen di 3 final pasca juara di tahun 2000, Lazio kembali menjadi finalis di tahun 2004 setelah melumat AC Milan di babak semifinal dengan agregat gol 6-1. Di babak puncak edisi 2004 ini, Lazio menantang Juventus yang harus bersusah payah menaklukkan Inter di babak semifinal melalui adu penalti.

Menilik kekuatan dan posisi di klasemen kedua tim, Juventus jelas diunggulkan ketimbang Lazio. Terlebih, Lazio tengah dalam masa pemulihan skuad pasca ditinggalkan para pemain bintangnya. Namun status sebagai bukan unggulan justru membuat semangat skuad asuhan Roberto Mancini terlecut mengingat ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mengakhiri musim dengan tanpa tangan hampa di tengah terseoknya langkah klub di Serie A.

Gol Fiore pada leg pertama final 2004

Harapan mengulang sukses di tahun 2000 mulai terwujud di leg pertama yang digelar di Stadio Olimpico pada 17 Maret 2004. Memanfaatkan status sebagai tuan rumah, Lazio berhasil menekuk Juventus dengan skor 2-0. Adalah Stefano Fiore yang menjadi bintang pada malam itu setelah memborong dua gol kemenangan Lazio di menit ke-59 dan 80. Juventus bukan tanpa perlawanan. Beberapa kali pasukan Marcelo Lippi yang dimotori Pavel Nedved, Marco Di Vaio, dan Mauro Camoranesi sempat membuat kocar-kacir barisan pertahanan Lazio. Beruntung, Lazio punya dua bek sentral sarat pengalaman: Jaap Stam dan Fernando Couto. Alhasil, Juventus pun gagal mencuri gol away di leg pertama yang dipimpin oleh wasit legendaris Pierluigi Collina tersebut.

Leg kedua digelar di Stadio delle Alpi pada 12 Mei 2004. Dipimpin oleh wasit Gianluca Paparesta, laga penentu ini disaksikan oleh 38.849 penonton. Defisit 2 gol di laga away, Juventus butuh setidaknya tiga gol untuk mengunci gelar Coppa yang akan menjadi kesepuluh bagi mereka. Tak heran, Lippi menurunkan formasi terbaiknya guna bermain all-out, termasuk memainkan duet Alessandro Del Piero-David Trezeguet yang disimpannya di leg pertama.

Gol Fiore mengunci gelar Coppa Italia 2004

Benar saja, duet lini depan Juventus ini menunjukkan eksposivitas mereka. Trezeguet langsung merusak konsentrasi pemain Lazio dengan golnya di menit ke-3. Del Piero pun menyamakan agregat berkat golnya di menit ke-46. Seantero Delle Alpi pun bergemuruh karena tim kesayangan mereka hanya membutuhkan satu gol untuk membalik keadaan, atau jika terpaksa maka akan ada babak extra time bahkan du penalti.

Lazio menjuarai Coppa Italia 2004

Mendapati timnya tengah tertekan, Mancini terus memberikan motivasi serta instruksi untuk tampil menyerang. Pasukan biru langit pun mengincar gol tandang untuk mempertahankan keunggulan leg pertama. Bernardo Corradi kembali membuka asa Lazio berkat golnya di menit ke-69. Berharap bisa menambah gol, Lippi pun memperkuat daya gedor dengan memasukkan Fabrizo Miccoli dan Di Vaio. Alih-alih bisa menambah gol, Juventus justru kembali kebobolan di menit ke-83, kali ini oleh Fiore. Skor imbang 2-2 pun bertahan hingga usai laga. Lazio pun merengkuh trofi Coppa Italia keempat mereka dengan kemenangan agregat gol 4-2.

Susunan Pemain:

Leg pertama:

LAZIO: Sereni, Oddo, Stam, Couto, Favalli, Fiore, Giannichedda, Liverani (81’ Dabo), Cesar (89’ Zauri), Corradi, Muzzi (46’ S. Inzaghi).

Cadangan: Peruzzi, Colonnese, Mihajlovic, Albertini.

Pelatih: Mancini.

JUVENTUS: Chimenti, Thuram, Tudor, Legrottaglie, Pessotto, Camoranesi (84’ Bartolucci), Tacchinardi, Conte (74’ Maresca), Appiah, Nedved, Di Vaio (76’ Palladino).

Cadangan: Buffon, Boudianski, Urbano, Chiumiento.

Pelatih: Lippi.

Leg kedua:

JUVENTUS: Chimenti, Ferrara, Thuram, Legrottaglie, Birindelli, Zambrotta, Maresca (75’ Di Vaio), Pessotto (46’ Appiah), Nedved, Trezeguet, Del Piero (78’ Miccoli).

Cadangan: Buffon, Iuliano, Boudianski, Chiumiento.

Pelatih: Lippi.

LAZIO: Sereni, Oddo, Stam, Mihajlovic, Favalli, Fiore, Giannichedda, Liverani (75’ Albertini), Cesar, Muzzi (61’ S.Inzaghi), Corradi.

Cadangan: Peruzzi, Couto, Zauri, C. Lopez.

Pelatih: Mancini.

  1. Final Coppa Italia tahun 2009

Mauro Zarate cetak gol di laga final 2009

Final Coppa Italia musim 2008/2009 menjadi kali keenam bagi Lazio. Ini adalah kali kedua Coppa Italia meninggalkan format home-away di babak final. Lazio melaju ke final setelah secara perkasa mengalahkan Juventus di babak semifinal dengan agregat 4-2. Di babak puncak, Lazio ditantang Sampdoria yang secara mengejutkan menyingkirkan Inter dengan agregat 3-1. Lazio pun diunggulkan bisa merengkuh trofi kelima mereka dengan mudah, terlebih laga yang digelar pada 13 Mei 2009 tersebut di helat di kandang mereka, Stadio Olimpico.

Namun kenyataan berkata lain. Meski mendapatkan dukungan dari mayoritas supporter, Lazio mendapat perlawanan sengit dari Sampdoria. Gol Mauro Zarate di menait ke-4 yang sempat memberi harapan bagi Lazio dibalas Giampaolo Pazzini di menit ke-30. Kedua tim pun bermain terbuka meski hingga wasit Roberto Rosetti mengakhiri waktu normal 90 menit tidak ada gol tambahan.

Lazio memenangi Coppa Italia 2009

Hasil 1-1 membuat laga harus dilanjutkan ke babak extra time. Tidak ada gol tercipta dalam laga berdurasi 30 menit tersebut. Pemenang pun harus ditentukan melalui babak adu penalti. Di babak tos-tosan ini, algojo pertama dan terakhir Sampdoria, Antonio Cassano dan Hugo Campagnaro, gagal menjalankan tugasnya. Di kubu Lazio, Tommaso Rocchi menjadi satu-satunya algojo yang gagal mengeksekusi penalti. Lazio pun menang dengan hasil adu penalti 7-6. Lazio pun dinobatkan sebagai kampiun Coppa Italia 2009 sekaligus menjadi koleksi gelar mereka kelima di ajang tersebut sepanjang sejarah klub.

Kaos “Io Campione, Tu Zero Titoli”

Kemenangan dramatis Lazio ini menjadi salah satu momen yang dikenang oleh para pemain dan supporter. Selalu di bawah bayangan AS Roma, Lazio membungkam kesombongan rivalnya itu dengan gelar Coppa Italia. Dalam perayaan kemenangan ini, petinggi dan staff klub, termasuk para pemain pun mengenakan kaos bergambar Zarate tengah menggenggam piala Italia sambil menyobek emblem Coppa Italia dari lengan Francesco Totti dan bertuliskan “Io Campione, Tu Zero Titoli” (Saya juara, Anda tanpa gelar) untuk menunjukkan bahwa Lazio berhasil mengakhiri musim 2008/2009 dengan gelar Coppa Italia sementara AS Roma harus gigit jari.

Susunan pemain:

LAZIO: Muslera, Lichtsteiner, Siviglia, Rozehnal, Kolarov, Brocchi (102’ De Silvestri), Dabo, Ledesma, Foggia (80′ Del Nero), Pandev (73′ Rocchi), Zarate.

Cadangan: Carrizo, Radu, Diakite, Mauri.

Pelatih: D.Rossi.

SAMPDORIA: Castellazzi, Campagnaro, Lucchini (96′ Gastaldello), Accardi, Stankevicius, Sammarco (91′ Dessena), Palombo, Franceschini (88′ Delvecchio), Pieri, Pazzini, Cassano.

Cadangan: Mirante, Raggi, Padalino, Marilungo.

Pelatih: Mazzarri.

  1. Final Coppa Italia tahun 2013

Final Coppa Italia tahun 2013 bisa jadi merupakan final yang paling mengesankan dan bakal diingat oleh publik Lazio. Bagaimana tidak, di final Coppa Italia edisi ke-66 tersebut, Lazio harus bertemu dengan rival sekota mereka, AS Roma. Tak pelak, laga yang digelar di Stadio Olimpico pada 26 Mei 2013 tersebut menjadi Derby Della Capitale ketiga dalam musim 2012/2013. Laga final ini juga menjadi kali ketiga sepanjang perhelatan Coppa Italia di mana tim sekota dipertemukan di babak puncak untuk memperebutkan trofi resmi. Sebelumnya, laga derby terjadi di final tahun 1938 (Juventus vs Torino) dan 1977 (AC Milan vs Inter).

Kemenangan dalam laga ini akan memastikan tiket Europa League musim 2013/2014 melalui jalur Piala Liga. Karenanya, baik Roma maupun Lazio sama-sama ingin meraih kemenangan setelah di Serie A mereka hanya finish di posisi ke-6 (Roma) dan 7 (Lazio) atau di luar zona kejuaraan Eropa.

Di laga final ini, Roma sedikit diunggulkan ketimbang Lazio. Posisi di klasemen dan materi pemain kedua tim menjadi pertimbangannya. Selain itu, catatan road to final kedua tim juga menjadi alasan. Sama-sama memulai dari babak perdelapan final, Lazio dan Roma menempuh jalan yang berbeda. Sebelum babak semifinal, jalan Lazio dianggap lebih mudah karena hanya bertemu dengan Siena dan Catania, sementara Roma dianggap lebih berat karena harus berhadapan dengan Atalanta dan Fiorentina. Baru di babak semifinal, keduanya dianggap setimbang karena sama-sama bertemu dengan lawan berat. Lazio menantang Juventus, sementara Roma meladeni Inter. Hasilnya, Roma dianggap lebih baik setelah menjungkirkan Inter dengan agregat 5-3 sementara Lazio harus bersusah payah menyingkirkan Juventus dengan agregat 3-2. Tak heran, Roma sedikit diunggulkan. Terlebih, jika menjadi kampiun kali ini, maka mereka berhak menggunakan bintang perak karena bakal memiliki 10 trofi Coppa Italia.

Sebagaimana laga DDC lainnya, laga final ini berjalan cukup sengit. Allenatore Vladimir Petkovic menurunkan skuad terbaiknya, dengan skema 4-1-4-1 andalannya, sementara Aurelio Andreazzoli menurunkan skema 4-2-3-1. Dengan fomasi ini, kedua tim sama-sama bermain menyerang menjurus keras. Ini terlihat dari lima kartu kuning yang dikeluarkan wasit Daniele Orsato.

Cristian Ledesma sudah mendapatkan kartu kuning, bahkan sebelum laga berjalan lima menit. Selanjutnya, Hernanes dan Miroslav Klose menjadi dua pemain Lazio lainnya yang mendapatkan kartu kuning. Sementara Marquinho dan Federico Balzaretti menjadi dua pemain Roma yang mendapatkan kartu kuning.

Lazio mendapatkan peluang di menit ke-20. Tetapi, tendangan kaki kiri yang dilepaskan Antonio Candreva dari luar kotak penalti masih melebar. Tiga menit berselang, Roma melakukan tekanan. Marquinho naik sampai depan kotak penalti Lazio dan melepaskan tendangan kaki kanan. Tendangannya masih bisa diblok bek Lazio, dan bola muntahan langsung diambil Francesco Totti. Sial bagi Roma, tendangan Totti melambung tinggi.

Dua peluang bagus terjadi setelahnya. Klose nyaris membawa Lazio unggul di menit ke-34. Dia menerima umpan yang dilepaskan dari sisi kiri dengan sundulan. Namun, Bogdan Lobont dengan cekatan bisa menepis sundulannya. Di akhir babak pertama, giliran Mattia Destro yang mendapatkan peluang untuk Roma. Dia menyambut umpan silang dari sisi kanan juga dengan sundulan. Tetapi, sundulannya melambung tipis di atas gawang yang dikawal Federico Marchetti.

Pada babak kedua, beberapa peluang bagus kembali tercipta. Namun, berkali-kali umpan yang dilepaskan ke dalam kotak penalti oleh kedua tim berhasil dihalau oleh para bek. Totti mendapatkan peluang pada menit 59. Dia melepaskan tendangan kaki kanan dari luar kotak penalti. Tetapi, tendangannya masih melebar. Sang kapten kembali mendapatkan peluang pada menit 67 namun tendangannya masih bisa ditangkap oleh Marchetti.

Senad Lulic mengakhiri mimpi Roma

Roma terus menekan. Serangan dari sisi kiri diakhiri oleh tendangan kaki kanan Destro dari dalam kotak penalti. Namun, lagi-lagi Marchetti menggagalkan peluang dengan menangkap bola tendangan Destro.

Justru Lazio yang akhirnya unggul pada menit ke-71. Umpan silang yang dilepaskan Candreva dari sisi kanan sempat ditepis oleh Lobont. Namun, tepisan Lobont tidak terlalu kuat. Bola malah jatuh di kaki Senad Lulic dan lewat satu sepakan, pemain bernomor punggung 19 itu membobol gawang Roma.

Semenit berselang, tendangan bebas Totti nyaris membobol gawang Lazio. Bola memantul tanah, kemudian mengenai mistar gawang Lazio. Beruntung bagi Lazio, bola berhasil ditangkap Marchetti setelahnya.

Lazio, rajanya kota Roma

Di sisa pertandingan, tidak ada banyak lagi peluang emas tercipta. Lazio akhirnya keluar sebagai juara. Bagi Lazio, ini adalah gelar juara Coppa Italia mereka yang keenam sepanjang sejarah, dan bagi Roma kekalahan ini menggagalkan mimpi mereka untuk menyematkan bintang perak di jersey mereka.

Susunan pemain:

ROMA: Lobont, Marquinhos, Burdisso, Castan, Balzaretti (76′ Osvaldo), De Rossi, Bradley, Lamela, Totti, Marquinho (83′ Dodò), Destro.

Cadangan: Goicoechea, Svedkauskas, Taddei, Piris, Florenzi, Romagnoli, Tachtsidis, Perrotta, Lopez, Pjanic.

Pelatih: Andreazzoli.

LAZIO: Marchetti, Konko, Biava, Cana, Radu, Candreva, Onazi (92′ Ciani), Ledesma (54′ Mauri), Hernanes (85′ A. Gonzalez), Lulic, Klose.

Cadangan: Bizzarri, Strakosha, Dias, Crecco, Ederson, Pereirinha, Stankevicius, Floccari, Kozak.

Pelatih: Petkovic.

  1. Final Coppa Italia tahun 2015

Dua tahun pasca kemenangan historis atas rival utama mereka, Lazio kembali tampil di babak final Coppa Italia. Di final edisi ke-68 kali ini, Juventus kembali menjadi lawan Lazio.

Line-up Lazio di final Coppa Italia 2015

Duel Lazio kontra Juventus ini dianggap sepadan, pasalnya kedua tim sama-sama tengah dalam performa terbaik mereka. Pasalnya, keduanya sama-sama berhasil menaklukkan finalis musim lalu di babak semifinal. Lazio mengalahkan Napoli dengan agregat 2-1, sementara Juventus menyingkirkan Fiorentina dengan agregat 4-2. Mengalahkan juara bertahan membuat moral pemain Lazio meningkat. Optimisme pun berhembus dari skuad asuhan Stefano Pioli tersebut.

Bermain di stadio Olimpico pada 20 Mei 2015, Lazio langsung tampil menyerang. Harapan bagi Lazio muncul kala sundulan Stefan Radu pada menit ke-4 memanfaatkan tendangan bebas dari Cataldi berhasil mengoyak jala gawang Juventus yang dikawal Marco Storari. Juventus pun tesentak dan berupaya mengejar ketertinggalan. Usaha ini berbuah hasil setelah Giorgio Chiellini menyarangkan bola ke gawang Etrit Berisha pada menit ke-11 lewat tendangan akrobatiknya.

Gol Radu tidak bisa membawa Lazio juara

Skor imbang 1-1 membuat kedua tim bermain penuh pertimbangan. Juventus yang di pertandingan ini menggunakan formasi 3-5-2 tampil kurang apik dan sering kehilangan bola. Beberapa kali Marco Parolo cs memanfaatkan kesalahan pasukan Massimiliano Allegri dan nyaris menjadi gol.

Carlos Tevez cs tidak mau tinggal diam. Perlahan mereka membangun serangan, namun selalu saja gagal mengkonversi menjadi gol. Hingga babak pertama usai, Lazio dan Juventus masih sama kuat 1-1.

Selepas turun minum, Juventus mencoba mengambil inisiatif serangan. Allegri menginstruksikan Pogba untuk bermain lebih ke depan, sementara Lazio mencari-cari celah untuk melakukan counter attack jika pasukan Juventus lengah. Sayang, kedua tim yang sama-sama tak ingin kecolongan, bermain hati-hati dan ragu untuk menyerang secara frontal. Hasilnya, hingga wasit Daniele Orsato menutup paruh kedua, tidak ada peluang berbahaya dari kedua tim. Lazio dan Juventus masih berbagi gol 1-1. Laga pun dilanjutkan ke babak tambahan.

Di sinilah petaka Lazio datang. Saat babak tambahan baru lima menit berlangsung, umpan Andrea Pirlo menyulut kemelut di depan gawang Lazio. Alessandro Matri yang berdiri bebas langsung menendang keras bola liar tanpa bisa dihadang oleh Berisha. Skor pun berubah 2-1 untuk keunggulan Juventus.

Tertinggal satu gol, Antonio Candreva cs mencoba meningkatkan serangan dari semua lini. Namun kebugaran yang mulai habis membuat pasukan Biancoceleste tidak bisa mengembangkan permainan mereka. Hingga akhir babak tambahan, skor tetap 2-1 untuk Juventus. Dengan hasil ini, Lazio gagal mengulang kesuksesan mereka di final tahun 2004. Sementara bagi Juventus, dengan kemenangan ini mereka berhak mengenakan bintang perak karena sudah berhasil juara 10 kali Coppa Italia.

Susunan pemain:

JUVENTUS: Storari, Barzagli, Bonucci, Chiellini, Lichtsteiner (115′ Padoin), Vidal, Pirlo, Pogba (78′ Pereyra), Evra, Llorente (84′ Matri), Tevez.

Cadangan: Buffon, Rubinho, Ogbonna, De Ceglie, Pepe, Coman, Asamoah, Sturaro, Marrone.

Pelatih: Allegri.

LAZIO: Berisha, de Vrji (105′ Keita), Gentiletti, Radu (71′ Mauricio), Basta, Parolo, Cataldi, Lulic, Candreva, Felipe Anderson, Klose (82′ Djordjevic).

Cadangan: Marchetti, Strakosha, Ciani, Braafhied, Mauri, Onazi, Ledesma, Novaretti, Cavanda.

Pelatih: Pioli.

Berikan komentar