Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

Politik yang Membuat Ultras Lazio dan Ultras Roma Bersatu

Derby della Capitale musim ini telah berakhir, dimana kedua tim saling berbagi kemenangan yaitu dua untuk Lazio dan dua untuk la roma. Kedua ultras juga hadir dan mulai memanaskan tensi pertandingan pada dua pertandingan derbi terakhir. Kehadiran mereka ini tentunya menambah daya tarik pertandingan itu sendiri, melalui koreo, cori, maupun war banner yang biasanya mereka tampilkan selama pertandingan berlangsung. Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa Ultras Lazio dan Ultras Roma saling bertolak belakang dalam beberapa hal, akan tetapi tidak sedikit pula keduanya memiliki persamaan pendapat yang mengejutkan banyak pihak.

Persamaan pendapat yang jamak kita ketahui adalah tentang masalah solidaritas/rasa kemanusiaan. Ketika Gabriele Sandri tiada, Ultras Roma memberikan penghormatan yang diberikan langsung pada saat pertandingan maupun saat pemakaman. Begitu juga dengan Ultras Lazio yang mengucapkan belasungkawa atas tragedi yang menimpa suporter Roma yaitu Christian dan Stefano. Walaupun pada beberapa kesempatan terdapat mural hinaan kepada Vincenzo Papparelli yang dilakukan oleh sekelompok Ultras Roma.

“Tanpa mempedulikan warna, selamat jalan Stefano dan Cristian” banner yang dituliskan Ultras Lazio pada laga melawan Torino 26 Oktober 2014. Sumber: sportpeople.net

Persamaan pendapat yang baru-baru ini terjadi adalah ketika kedua belah pihak sepakat untuk melakukan protes dan boikot atas hadirnya pembatas di Curva. Protes yang dilakukan mereka ini cukup keras, mereka sama sekali menolak untuk hadir dan mendukung tim kesayangan dan lebih memilih untuk berbondong-bondong menyaksikan pertandingan tandang. Tentunya hal ini membuat kedua klub kelimpungan, dimana mereka menawarkan tiket yang sangat murah untuk menarik kembali ultras ke Curva. Namun persamaan pendapat ini tidak berlansung lama, karena Ultras Lazio di tengah musim melakukan ajakan untuk kembali ke Curva Nord yang diserukan oleh Diabolik.

Ajakan yang disampaikan ini tentunya tidak diterima dengan serta merta, karena beberapa fraksi Ultras Lazio masih teguh untuk tidak hadir. Apa yang dilakukan Diabolik tersebut memancing Ultras Roma untuk menyindir hal tersebut. Mereka menyatakan bahwa Ultras Lazio tidak memiliki pendirian teguh untuk memperjuangkan prinsip, dengan kata lain Ultras Lazio telah kalah dalam pertarungan tersebut. Faktanya, Diabolik sudah menyadari hal tersebut dimana pembatas akan dihilangkan namun tetap akan ada pembatas yang dilakukan oleh pengawas (steward barrier). Diabolik balik menyerang jika Ultras Roma konsisten seharusnya mereka tidak akan kembali lagi ke Curva Sud. Karena baik Curva Nord dan Curva Sud tidak akan kembali seperti dahulu lagi. Apa yang dinyatakan Diabolik benar, faktanya sekarang ini baik Curva Nord dan Curva Sud tetap ada pembatas yang dilakukan oleh pengawas.

Steward Barrier on Curva Sud, can you see it?. Sumber : sportpeople.net

Persamaan pendapat Ultras Lazio dan Ultras Roma tersebut adalah hal yang wajar, dikarenakan keduanya merasa terusik atas apa yang pemerintah lakukan terhadap rumah mereka. Namun ternyata terdapat suatu prinsip di masing-masing ultras yang benar-benar menanggalkan atribut kebanggaan mereka. Mereka rela melupakan rasa saling membenci, rasa untuk menghajar rival abadi demi suatu prinsip. Prinsip itu adalah prinsip politik. Alberto Testa dalam disertasinya “Opposing The ‘System’: Ideology and Action In The Italian Football Terraces” pada tahun 2009 menjelaskan bahwa pada beberapa ultras, prinsip politik ini bisa mengubah rival abadi menjadi teman dalam waktu sekejap dalam beberapa keadaan.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar Curva di Italia menganut ideologi politik. Baik Ultras Lazio dan Ultras Roma sendiri sebagian besar menganut paham fasisme. Menjadi hal yang wajar mengingat sejarah Italia dan efeknya terhadap dua klub sepakbola tersebut. Casa Pound Italia merupakan salah satu kelompok Neo-Fascist di Italia selain Forza Nuova dan Ordine Nouvo. Anggota dari Irriducibili maupun Boys Roma juga tergabung dalam Casa Pound Italia, keduanya membaur menjadi satu disini. Ketika Casa Pound Italia membuat suatu program bernama Mutuo Sociale, baik Irridicubili dan Boys Roma mendukung benar program tersebut dengan cara mempromosikan via banner, fanzine dan menyebarkannya di stadion Olimpico.

Sebelum simbol fasis dilarang di Curva. Sumber : espresso.republica.it

Anggota Casa Pound dari Irriducibili dan Boys Roma ini sering untuk berkumpul bersama di suatu bar di kota Roma, Cutty Sark. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan minum-minum, melupakan bahwa sebenarnya mereka adalah rival abadi. Ketika ditanya mengapa mereka bisa berkelahi dan berkumpul bersama? Mereka menjawab “Berkelahi dalam scontri hanyalah untuk mengetahui seberapa kuat diri kita dalam konfrontasi fisik dan sejujurnya kita semua adalah camerati yang memiliki cita-cita yang sama, itulah alasannya.

Prinsip ini semakin menarik, ketika Alberto bertanya bagaimana jika salah satu dari kalian terlibat dalam perkelahian, dua orang dari Boys Roma sepakat menjawab “Kita tidak akan terlibat. Kita memiliki kesetiaan terhadap kelompok kami, jadi kami harus berkelahi walaupun kami tahu bahwa ada teman kami di barikeda lain. Jadi untuk menghindari dilema moral, kami memilih untuk tidak hadir dalam situasi tersebut.” Lalu ketika ditanya bagaimana jika kalian melihat teman kalian dari Lazio dipukuli oleh fans Roma? Jawabannya adalah “Saya akan bertarung di sisi teman Lazio saya.

Scontri yang terjadi di Tribuna Tevere pada April 2010. AFP PHOTO / Filippo MONTEFORTE

Berdasarkan hal tersebut bagi anggota Irriducibili dan Boys Roma, menjadi seorang fascist adalah hal yang lebih penting ketimbang menjadi laziale atau romanista. Mereka mengatakan, ideologi merekalah yang membedakan antara fans biasa dan mereka. Rasa cinta kepada tim adalah hal yang penting akan tetapi ideologi mereka dan menjadi comrades adalah hal yang signifikan. Oleh karena itu menjadi hal yang sangat logis ketika dalam beberapa kasus terdapat kelompok ultras yang saling bermusuhan bersatu melawan sekelompok ultras/orang yang mereka persepsikan sebagai musuh politik mereka.

Ketiga contoh di atas menjadikan bukti bahwa dalam beberapa kondisi rival abadi pun akan memiliki rasa hormat dan kesepahaman terhadap masing-masing. Namun apa yang diungkapkan Alberto Testa dalam disertasinya benar-benar menjadi hal yang khusus karena bagi sebagian ultras, politik jauh lebih penting ketimbang rasa cinta terhadap klub. Hal-hal seperti itu jelas tidak akan nampak di Indonesia karena ideologi politik fasis/komunis yang jelas dilarang, akan tetapi ada kemungkinan muncul dalam keadaan politik sehari-hari. Apa yang terjadi pada Pemilu Presiden dan Pilkada DKI Jakarta menjadi salah satu contoh yang terbaik, bahwa pilihan politik benar-benar melupakan rasa fanatisme terhadap suatu klub. Mungkin anda sendiri sudah mengalami bahwa anda berkampanye bahu membahu dengan fans rival tim lain agar calon pemimpin anda menang. Menarik bukan? Forza Lazio !

Sumber :

Alberto Testa, “Opposing The ‘System’: Ideology and Action In The Italian Football Terraces

Laziopress

Lazialita

Forzaroma

About the author

Io tifo Lazio, Il tuo pure

Berikan komentar