Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

Cori Spesial : E Sosa, E Amarildo, E Troglio

Minggu lalu, jumlah laziali yang hadir di stadion Saint Elia tidak terlalu banyak, sehingga kita tidak bisa mendengar dengan jelas cori-cori yang mereka nyanyikan. Mungkin itulah penyebab mengapa buruknya performa Lazio melawan Cagliari. Berbicara mengenai cori Lazio, ada puluhan bahkan ratusan cori yang sudah diciptakan.  Kebanyakan dari cori-cori ini ditujukan untuk memompa semangat satu tim, ejekan atau memberi tekanan terhadap tim rival dan juga cori untuk beberapa pemain yang dianggap spesial. Cori untuk pemain ini memang jarang kita dengar karena jumlahnya tidak banyak dan hanya pemain tertentu yang akan mendapatkannya.

Baca juga “Cori Lazio pada Kondisi Tertentu”

Contoh yang paling populer dalam tiga tahun terakhir tentu cori untuk seorang Miroslav Klose. Jika tidak hafal tentu kamu akan lebih nyaman dengan nada cori untuk seorang Djibril Cisse dan Michel Ciani. Bagi penulis, cori untuk pemain memiliki arti yang sangat dalam karena itulah bentuk penghormatan dan pengakuan Ultras terhadap pemain tersebut. Dalam wawancara dengan Lazio Style Channel, Keita maupun Tounkara mengungkapkan keinginan agar namanya dijadikan cori bahkan mereka telah memilih nada yang mereka ingingkan. Namun dari cori-cori tersebut, ada satu cori yang spesial. Cori spesial tersebut merupakan cori yang sering dinyanyikan pada musim 1989/90.

E ruben, ruben, ruben, ruben Sosa

E ama, ama, ama, Amarildo

E pedro, pedro, pedro, Troglio

Ale ale ale

Ale ale la Lazio !

Sudah pernah mendengar cori ini? atau belum pernah sama sekali? atau merasa familiar dengan salah satu nama dari lirik cori tersebut? ya, itu adalah cori yang ditujukan kepada pemain bintang Lazio kala itu Ruben Sosa. Namun juga ditujukan kepada Amarildo dan Pedro Troglio. Alasan mengapa cori ini spesial adalah ini merupakan cori 3 in 1. Uniknya lagi ketiganya berasal dari negara yang bertetangga yaitu Argentina, Brazil dan Uruguay. Pada musim 1989/90, Ruben Sosa dan Amarildo sukses menjadi pencetak gol terbanyak bagi Lazio, masing-masing mencetak delapan gol. Kala itu Lazio mengakhiri musim dengan berada di peringkat sembilan. Berikut sedikit informasi mengenai ketiganya.

“El Principito” julukan yang diberikan suporter Uruguay kepada Ruben Sosa.
www.laziowiki.org

Ruben Sosa Ardaiz, pemain kelahiran Montevideo (Uruguay) ini dibeli pada musim panas 1988. Memulai debut melawan Cessena yang berakhir imbang 0-0. Ruben Sosa berseragam biancocelesti selama empat musim, dengan rekor 140 caps dan 47 gol. Selama itu pula, Ruben Sosa sukses menjadi idola laziali. Sayangnya pada musim 1992 Ruben Sosa dijual ke Internazionale. Ruben masih sering hadir di acara Di Padre In Figlio.

Suatu perasaan yang menyenangkan bahwa suporter Lazio masih memberi apresiasi terhadapku. Lazio adalah klub yang membawaku ke Italia dan aku berutang banyak kepadanya. Saat itu kita merupakan tim promosi dari Serie B tapi fans menggila dan berujar kita harus meraih scudetto, itu hal yang lumrah. Cori ini akan tetap tinggal di hati para suporter begitu juga di hatiku. Bahkan temanku yang datang ke Italia serta melihat pertandingan Lazio berujar kepadaku bahwa dirinya terkejut cori ini masih sering dinyanyikan.”

Amarildo bersama Injil yang selalu dibawa dan diberikan kepada pemain rival sebelum pertandingan dimulai
www.laziowiki.org

Amarildo Souza do Amaral, pemain kelahiran Curitiba (Brazil) ini dibeli pada musim 1989/90 dari Celta Vigo. Sayangnya Amarildo hanya bertahan satu musim di Lazio, dengan rekor 31 caps dan 9 gol. Keunggulannya adalah bola bola udara dan sundulan yang akurat. Pada musim 1990 dirinya dijual ke Cessena.

Setelah sekian tahun lamanya, suporter masih menyanyikan cori ini. Temanku yang melihat Lazio juga mengatakan hal yang sama, para suporter terlihat berpesta sembari menyanyikan namaku. Bagiku ketika suporter Lazio masih menyanyikan cori ini adalah sebuah kepuasan karena itu berarti aku memberikan kesan yang baik bagi mereka. Aku berterima kasih kepada para suporter yang telah menyanyikan cori ini pada saat itu dan terus menggema hingga sekarang

Di masanya Troglio bersama pemain Lazio lainnya setiap minggu mereka datang dan berkumpul dengan para anggota Lazio Club
www.laziowiki.org

Pedro Antonio Troglio, pemain kelahiran Poia Lujan (Argentina) ini dibeli pada musim 1989 dari Hellas Verona. Menghabiskan dua musim bersama Lazio dengan rekor 40 caps dan satu gol. Pada musim 1991 dirinya dijual ke Acoli.

Aku melihat video di internet bahwa suporter masih menyanyikan cori ini dan aku luar biasa senang. Kala itu aku melihat pertandingan Lazio bersama anakku, dan aku berkata padanya bahwa mereka menyanyikan namaku. Dia merasa takjub sekaligus keheranan. Ketika beranjak dewasa reaksinya lebih besar lagi.

Aktivitas ketiganya saat ini adalah menjadi pelatih sepakbola di masing-masing negaranya. Ketiganya masih sering berkomunikasi dan mengenang masa-masa indahnya berseragam biru langit. Dan merekalah yang menjadi inspirasi munculnya cori spesial ini. Cori yang muncul dimasa kebangkitan Lazio. Cori yang muncul karena kedekatan hubungan pemain dan suporter. Cori yang tercipta dari rasa yakin dan bangga dengan kondisi tim dan pemain yang dimiliki. Ale ale la Lazio !

Sumber :

Sosa : laziowiki.org , lalaziosiamonoi.it

Amarildo : laziowiki.org , lalaziosiamonoi.it

Troglio : laziowiki.org , lalaziosiamonoi.it

Lazioland

About the author

Io tifo Lazio, Il tuo pure

Berikan komentar