Siamo Una Famiglia

Lazio Indonesia

Peluang Emas Simone Inzaghi Mengikuti Jejak Fulvio Bernardini

Kekalahan 3-2 yang dialami SS Lazio dari seteru abadi AS Roma dirayakan oleh segenap pemain dan staff Lazio. Kemenangan tersebut terasa spesial karena mereka berhasil menyingkirkan rival abadi dan melaju ke final Coppa Italia. Terlebih lagi keberhasilan tersebut menjadi kado indah Inzaghi yang berulang tahun keesokan harinya. Simone Inzaghi benar-benar menjadi sorotan setelah pertandingan tersebut, pencapaiannya benar-benar melebihi eskpektasi banyak orang. Musim masih panjang dan Inzaghi masih memiliki kesempatan untuk membuat kejutan hebat lainnya.

Lolosnya Lazio ke final Coppa Italia merupakan yang ketiga kalinya dalam lima tahun terakhir. Pencapaian yang luar biasa bagi skuad ibukota dimana budget belanja dan materi pemain mereka tidak semewah rival-rival lainnya. Dalam sejarah Coppa Italia, Lazio berhasil lolos ke final sebanyak sembilan kali (terhitung 2017) dan menjadi juara Coppa Italia sebanyak enam kali. Namun ada catatan menarik kali ini yang terulang kembali. Catatan menarik itu adalah dari enam gelar yang diraih Lazio pada ajang Coppa Italia separuhnya diraih oleh pelatih yang baru pertama kali menukangi Lazio.

Sebagai mantan pemain Lazio dan caretaker pengganti Bielsa tentu saja ini adalah kesempatan terbaiknya untuk menambah koleksi palmares dirinya. Inzaghi memiliki kesempatan emas untuk mengulang prestasi seperti yang dilakukan para pendahulunya, meraih gelar di musim pertama. Berikut adalah beberapa pelatih yang sukses mengukir prestasi tersebut.

  1. Fulvio Bernardini

Dikenal sebagai salah satu pemain dan pelatih terhebat di Italia. Bernardini mengawali karir di Lazio sebagai penjaga gawang namun, dalam tahun berikutnya dirinya berganti-ganti posisi dari seorang striker, bek tengah hingga gelandang. Selama membela Lazio track recordnya kurang jelas karena pada saat itu koran-koran tidak selalu mencatat informasi pertandingan. Bernardini menandatangi kontrak pada 6 April 1958 tetapi baru mulai melatih pada setelah Serie A selesai menggantikan duet pelatih Alfredo Monza dan Dino Canestri. Fulvio Bernardini hanya kebagian pertandingan Coppa Italia yang dilaksanakan setelah Serie A berakhir.

Bernardini (pojok kanan) berpose bersama skuad Lazio setelah meraih gelar mayor pertama , sumber : laziowiki.org

Pada fase grup Bernardini sukses membuat rekor tidak terkalahkan dan menjadi juara grup. Musim itu Lazio melaju ke final setelah mengalahkan Juventus dua gol tanpa balas. Laga final Coppa Italia 1958 Lazio melawan Fiorentina, Bernardini sukses membawa Bob Lovati cs meraih gelar mayor pertama Lazio melalui gol tunggal Maurilio Prini. Bernardini juga sukses menjadi pelatih pertama Lazio yang di musim pertamanya yang langsung mempersembahkan gelar. Ironisnya, gelar mayor pertama Lazio ini dipersembahkan oleh seorang legenda Roma, Fulvio Bernardini.

  1. Sven-Goran Eriksson

Pelatih berkebangsaan Swedia ini memiliki gelar yang banyak di Benfica dan sudah malang melintang di Serie A sebelum menangani Lazio. Eriksson ditunjuk sebagai pelatih Lazio pada musim 1997/98 menggantikan seorang Dino Zoff. Debutnya bersama Lazio di Serie A tidak terlalu mentereng. Pada musim itu Lazio finish di posisi ketujuh turun tiga peringkat dibandingkan musim sebelumnya. Namun di Coppa Italia Eriksson menuai hasil yang berbeda, dimana pemain rekrutannya sukses menjadi andalan Lazio.

Eriksson sukses membawa Lazio comeback dan meraih gelar kedua Coppa Italia, sumber: ultraslazio.it

Mancini, Jugovic dan Boksic benar-benar menjadi andalan lini depan Lazio di Coppa Italia. Ketiganya total mencetak 11 gol dari 22 gol yang dicetak Lazio di Coppa Italia musim itu. Skuad Eriksson berhasil menyingkirkan tim tangguh seperti Napoli, Roma dan Juventus. Di final Lazio menghadapi AC Milan, dimana saat itu masih menggunakan format home-away. Lazio kalah di pertandingan pertama namun berhasil membalas 3-1 melalui gol Gottardi, Jugovic dan Nesta. Kemenangan tersebut merupakan gelar kedua Coppa Italia bagi Lazio. Sven-Gorran Eriksson sukses mencatatkan rekor sebagai pelatih kedua Lazio yang mampu memberikan gelar di musim pertamanya, 30 tahun setelah pencapain Bernardini.

  1. Vladimir Petkovic

Pelatih berkebangsaan Swiss ini resmi ditunjuk melatih Lazio untuk musim 2012/13, menggantikan pelatih gaek Edoardo Reja. Kedatangan Petkovic ke Lazio cukup mengejutkan banyak pihak karena tidak banyak informasi mengenai dirinya. Mengusung pola menyerang Lazio tampil cukup aktraktif dan tidak terlalu monoton seperti yang dilakukan Reja. Petkovic mendapatkan hasil yang cukup baik di Serie A dengan menempati posisi ketujuh di klasemen akhir. Bukan hal yang buruk bagi pelatih yang baru pertama kali menangani tim di Serie A.

Petkovic mengarak trophy Coppa Italia 2013 di Olimpico, sumber :tuttomercatoweb.com

Kejutan terbesarnya ada di Coppa Italia. Lazio kala itu menjalani pertandingan yang cukup melelahkan ketika menghadapi Siena di kandang, untung Lazio memiliki seorang Ciani dan Carrizo yang sukses menjadi malaikat penyelamat. Pada pertandingan semifinal Lazio sukses menyingkirkan Juventus dengan indahnya, mengulang momen Coppa Italia 1958, 2000 dan 2009. Puncaknya ketika mengalahkan rival abadi AS Roma dengan gol tunggal Lulic, dimana pertandingan final yang akan dikenang sepanjang masa. Kemenangan itu benar-benar membuat Petkovic spesial di mata para laziali, tak tanggung-tanggung para ultras membuatkan cori untuknya. Vladimir Petkovic sukses menjadi pelatih ketiga Lazio yang langsung memberikan gelar di musim pertamanya.

Ketiga pelatih tersebut sukses memanfaatkan kesempatan pertamanya dengan sempurna bersama Lazio di Coppa Italia. Sebenarnya ada satu pelatih Lazio yang memiliki kesempatan sama dengan ketiganya, dia adalah Stefano Pioli. Stefano Pioli di musim pertamanya bersama Lazio menorehkan hasil yang lebih fantastis, mengakhiri klasemen Serie A di peringkat ketiga dan melaju ke final Coppa Italia. Sayangnya Stefano Pioli ini tidak seberuntung pendahulunya, Lazio dipaksa menyerah oleh gol telat Alessando Matri. Kekalahan tersebut membuat Stefano Pioli gagal menjadikan dirinya pelatih keempat Lazio yang memberikan gelar di musim pertama.

Kali ini peluang itu datang kepada Simone Inzaghi. Inzaghi akan memimpin Biglia cs menghadapi juara bertahan Juventus. Final Coppa Italia ini akan digelar pada 2 Juni atau 17 Mei tergantung sejauh mana Juventus akan melaju di kompetisi Champions League. Namun sekali lagi, Juventus bukanlah tim yang ramah terhadap Lazio. Sudah lebih dari satu dekade Lazio gagal menang melawan Juventus di Serie A. Sementara di Coppa Italia kemenangan terakhir terjadi pada tahun 2013.

Pada musim ini Inzaghi telah dua kali bertemu dengan Juventus dan keduanya berakhir dengan kekalahan bagi Lazio. Dari dua pertandingan tersebut Inzaghi menerapkan formasi yang berbeda yaitu 3-5-2 dan 4-3-3. Formasi 3-5-2 sukses membuat Juventus kesulitan namun Inzaghi tidak terlalu berani menekan. Sementara formasi 4-3-3 terlalu mudah ditembus oleh para pemain Juventus, lemahnya sisi sayap dan pasifnya para pemain membuat formasi ini sangat riskan untuk digunakan lagi.

Simone Inzaghi merupakan pelatih Lazio yang gila taktik, kekagumannya terhadap Maurizio Sarri benar-benar membuat dirinya fleksibel menggunakan banyak formasi. Seiring berjalannya waktu suara-suara sumbang yang mempertanyakan perubahan formasi drastis Lazio menghilang. Final Coppa Italia nanti akan menjadi kesempatan ketiganya menghadapi Juventus. Sekali lagi taktik dan formasinya akan diuji yang nantinya akan menentukan Lazio berhasil juara atau tidak. Tentunya kita berharap Inzaghi akan meneruskan apa yang dimulai oleh Fulvio Bernardini dan tidak mengulangi ketidak beruntungan Stefano Pioli.

Simone Inzaghi lalalalalala Simone Inzaghi lalalalalala Simone Inzaghi lalalalalala !

Sumber :

Fulvio Bernardini : Wikiit, Laziowiki

Sven-Gorran Eriksson : Wikiit, Wikien

Vladimir Petkovic : Laziowiki, Wikiit

About the author

Io tifo Lazio, Il tuo pure

Berikan komentar